CucuRann

pencari keadilan

Pembakuan Materi Kesehatan Dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Untuk Mengubah Perilaku Sehat Peserta Didik

Posted by arykamara pada 29 DesemberUTCbTue, 02 Dec 2008 15:32:00 +0000000000pmTue, 02 Dec 2008 15:32:00 +000008, 2008

Abstrak: Tujuan UKS yaitu memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan siswa yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan, maka cakupan dalam pembinaan dan pengembangan harus memenuhi ketiga tujuan tersebut. Untuk memenuhinya UKS menerapkan tri program UKS ( Trias UKS ) yaitu penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Dari ketiga program tersebut yang lebih efektif dalam hal ini, diperkirakan adalah penyelenggaraan pendidikan kesehatan.

Karena waktu yang paling banyak dimiliki peserta didik adalah waktu untuk Proses Belajar Mengajar (PBM) atau intrakurikuler, dan ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai penunjang. Tetapi semua itu di lapangan masih kurang berjalan sesuai dengan yang diharapkan, hal ini nampaknya ada beberapa kendala, antara lain di dalam organisasi UKS tidak ada materi yang baku yang disesuaikan dengan tujuan program UKS dan tingkat / jenjang pendidikannya, yang dapat digunakan sebagai satu sarana untuk sosialisasi kesehatan ke peserta didik sehingga pemahaman peserta didik terhadap UKS dan perilaku sehat lebih mudah. Dari beberapa hambatan tersebut dapat ditawarkan solusinya yang mungkin relevan dengan tugas pokok dan fungsi Depdikbud yaitu membina dan mengembangkan program UKS melalui jalur intrakurikuler yaitu dengan diterapkan pembakuan materi pendidikan kesehatan oleh UKS.
Kata Kunci: Pembakuan, Materi Kesehatan
Pendahuluan
Keberhasilan dalam setiap aktivitas kehidupan sangat bergantung pada sumber daya manusia yang sehat yaitu sehat fisik, mental dan sosial karena kalau tidak sehat semua aktivitas yang produktif akan hilang bahkan akhirnya menjadi beban masyarakat. Kalau kita lihat jumlah peserta didik yang berusia 5 sampai 19 tahun adalah cukup besar yaitu 55.872.000 dari jumlah seluruh penduduk Indonesia di tahun 2020 nanti ( Lembaga Demografi UI, 2001 ). Peserta didik atau siswa ini merupakan kelompok yang mempunyai tingkat kesehatan yang lebih baik dibanding dengan kelompak masyarakat lain, ditinjau dari tingkat kesakitan. Meskipun demikian kelompok ini merupakan kelompok yang rawan karena berada dalam periode pertumbuhan dan perkembangan.
Kerawanan tersebut dapat dilihat dari beberapa penelitian yang antara lain, di Bali terdapat 40,3% pria dari 52 responden SMU pernah melakukan hubungan seks (laksmiwati, 1999). Dilaporkan juga oleh Saenun dkk. (1992), terdapat 26,6% pelanggan lokalisasi WTS (Wanita Tuna Susila) Bangunsari Surabaya adalah remaja.
Sementara itu, polling di media massa, menunjukkan 50% remaja putri (cewek) dari 402 responden di Surabaya, pernah berperilaku berbau seks yaitu bergandengan, berpelukan, dan yang paling parah berciuman bibir, serta 45% remaja putri yang memulainya (Jawa Pos, 16 Maret 2001, 17). Terdapat 74,1% dari 526 remaja putri di Surabaya dalam usia 14-27 tahun, pernah melakukan ciuman (kissing), dan 62% melakukannya di luar rumah (Jawa Pos, 4 Mei 2001, 21).
Kerawanan lain adalah, kehamilan yang tidak dikehendaki di kalangan remaja. Ditemukan 62, 9% dari 383 siswa SMU dan SMK di Surabaya mengaku pernah punya teman hamil di luar nikah, dan 30,3% menyatakan tidak masalah hamil di luar nikah asal bertanggung jawab (Jawa Pos, 30 Oktober, 2000:21). Kekhawatiran lainnya adalah aborsi dan pernikahan usia muda (Krisbiyah, 1995).
Meningkatnya perilaku seks yang tidak sehat bisa disebabkan oleh terpaan informasi seks secara terus menerus baik dari media massa maupun dari teman sebayanya. Diketahui bahwa informasi seks terbanyak didapatkan dari teman sebayanya (Ajik, 1993), yang sebagian besar informasi itu salah dan hanya sebagian kecil saja yang benar (Martin & Stendler, 1959 dalam Ajik, 1995:3). Sehingga apa yang didapatkan remaja hanya didiskusikan dengan teman kelompoknya, dirasionalisasikan, disimpulkan, dan diaplikasikan dalam perilaku seksualnya, tanpa ada konfirmasi dari sumber informasi lain sehingga terjadi kesepakatan perilaku seks tidak sehat. Hal inilah yang harus mendapatkan konfirmasi tentang informasi seks yang sehat, dan ini sebagai ciri khusus difusi dari Rogers dan Shoemaker (1978) dalam Effendy, 2000).Di sinilah perlunya pendidikan kesehatan yang bersifat informatif preventif terutama dalam wadah pendidikan formal ( Sekolah ) yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

B. Pembahasan

1. Usaha Kesehatan Sekosah ( UKS )
UKS adalah wahana atau tempat untuk meningkatkan kem?n?puan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa sedini mungkin. Tujuan UKS secara umum adalah peningkatan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa serta menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimum dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan tujuan secara khusus melipuli : (a) Peninakatan produktivatas belajar siswa. (b) Peningkatan dan pengembangan pengetahuan, sikap dan ketrampilan siswa dalam menjalankan prinsip hidu sehat serta berpartisipasi aktif dalam upaya peningkatan kesehatan di sekolah, rumah tangga maupun lingkungan masyarakat.(c) Peningkatan kondisi institusi pendidikan sehingga dapat mendukung berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar yang menunjang tercapainya kemampuan untuk menjalankan prinsip hidup sehat. (d) Ruang lingkup UKS terdiri dari tiga program Trias Program : (1) Penyelenggaraan pendidikan kesehatan yang meliputi, pengetahuan tentang dasar hidup sehat, sikap tanggap terhadap persoalan kesehatan, dan latihan kebiasaan hidup sehat. (2) Penyelenegaraan pelayanan kesehatan meliputi, pelayanan kehersihan dan pemeriksaan murid, pengobatan ringan dan P3K, pengawasan warung sekolah, pencatatan dan pelaporan tentang keadaan penyakit. (3) Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat.
Sesuai dengan tujuan UKS yaitu memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan siswa yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan, maka cakupan dalam pembinaan dan pengembangan harus memenuhi ketiga tujuan tersebut. Untuk memenuhinya UKS menerapkan tri program UKS ( Trias UKS ) yaitu penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Dari ketiga program tersebut yang lebih efektif dalam hal ini, diperkirakan adalah penyelenggaraan pendidikan kesehatan. Karena waktu yang paling banyak dimiliki peserta didik adalah waktu untuk Proses Belajar Mengajar (PBM) atau intrakurikuler, sedangkan yang ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai penunjang.
Disamping alasan tersebut ada alasan lain bahwa dalam program pelayanan kesehatan kurang dilibatkan pendidikan kesehatan. Meskipun program itu mungkin telah melibatkan pendidikan kesehatan tetapi kurang berbobot, padahal pendidikan kesehatan itu tidak segera dan jelas memperlihatkan hasil. Dengan perkataan lain pendidikan kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat dan yang mudah dilihat atau diukur. (Soekidjo, 1993 : 9). Berarti di UKS dianggap tidak efektif sehingga kurang mendapat perhatian dari kalangan pemerhati UKS.
Kalau melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapai beserta materi UKS yang disampaikan sungguh sangat baik sekali apabila di lapangan secara empiris berjalan dengan baik. Tetapi semua itu di lapangan masih kurang berjalan sesuai dengan yang diharapkan, hal ini nampaknya ada beberapa kendala, antara lain (1) Di dalam organisasi UKS tidak ada materi yang baku yang disesuaikan dengan tujuan program UKS dan tingkat / jenjang pendidikannya, yang dapat digunakan sebagai satu sarana untuk sosialisasi kesehatan ke peserta didik sehingga pemahaman peserta didik terhadap UKS dan perilaku sehat lebih mudah. Hambatan ini diperkuat dengan adanya kesimpulan dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh Depdikbud; Depkes, Depag dan Depdagri yaitu: (a) Masih banyak kekurangan yang ditemui, antara lain dalam hal tenaga guru, prasarana dan sarana penunjang proses belajar mengajar dalam pendidikan kesehatan. (b) Sasaran upaya kesehatan ditinjau dari cakupan ( coverage ) sekolah, peserta didik dikaitkan dengan wajib belajar, mutu penyelenggaraan, ketenagaan dan sarana prasarana belum seimbang dengan usaha pencapaian tujuan kegiatan (Depkes RI 1995 : 3). (2) Masih adanya persepsi dari peserta didik bahwa UKS hanyalah wadah yang digunakan / dimanfaatkan kalau dia sedang tidak enak badan atau sakit saja dan lebih dari itu tidak ada. Misalnya pemahaman apa sebenarya konsep sehat itu?, bagaimana meningkatkan derajat kesehatan dan bagaimana cara mengubah perilaku agar tetap sehat dan seterusnya. (3) Di benah peserta didik, pendidikan kesehatan itu sama dengan olah raga, sama dengan Biologi dan sama dengan Sosiologi dan sama dengan PPKN. Karena materi kesehatannya sebenarnya hanya ditempel-tempelkan atau diikut-ikutkan saja ke beberapa bidang studi tersebut sehingga apa yang diprogramkan dan menjadi tujuan pendidikan kesehatan menjadi ngambang tanpa arah yang jelas.
Dari beberapa hambatan tersebut dapat ditawarkan solusinya yang mungkin relevan dengan tugas pokok dan fungsi Depdikbud yaitu membina dan mengembangkan program UKS melalui jalur intrakurikuler yaitu dengan diterapkan pembakuan materi pendidikan kesehatan oleh UKS sehingga peserta didik mempunyai pegangan yang konsekwensi logisnya peserta didik akan lebih cepat memahami dan menerapkannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

2. Perilaku ( Behavior )

Perilaku diartikan sehavai manisfestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu sehingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat sesuatu ( Ross, 1953 : Bimo Walgito, 1983: 45).
Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan (Solita Sarkono, 1993:11). Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan, antara lain : (a) Minat seseorang sehubungan dengan kepentingan pribadinya, (b) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya. (c) Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan. (d) Otonomi pribadi yang bersangkutan tersebut dalam mengambil tindakan atau keputusan. (f) Situasi yang memungkinkan bertindak atau tidak bertindak. ( Kar, 1985:51).

3. Merubah Perilaku

Festinger (1957) dalam teori distonasi kognitif mengemukakan bahwa elmen-elmen kognitif individu berada dalam keadaan seimbang. Jika individu dihadapkan pada sesuatu yang baru (Informasi, lingkungan, peristiwa), maka keseimbangan kognitif terganggu. Individu akan berusaha mengembalikan keseimbangan kognitifnya melalui proses rasionalisasi yang akan diikuti perubahan sikap dan praktek.
Rogers & Shoumaker ( 1971 ), dalam teori inovasi mengemukakan perubahan perilaku melalui proses Awareness, Interest, Evaluating, Trial, Adaptation (AIETA), yang kemudian dimodifikasi kembali oleh Rogers menjadi; Knowledge, Persuation, Dicition, Convirmation ( KPDC ).
Bandura, dkk. (Ross & Mico, 1980:39, Glanz et.al., 1990: (161-182) dalam teori belajar sosial mengemukakan bahwa perubahan perilaku terjadi karena ingin meniru (identifikasi) orang yang disenangi, orang penting atau figur, idola dan belajar dari pengalaman orang lain.
Frikcon dan Colemen (Ross 8: Miko, I980: 38-34,4O), dalam teori perlembangan, mengemukakan bahwa perubahan perilaku manusia terjadi sesuai tahap-tahap perkembangannya. Pada tahap kehidupannya mulai bayi sampai tua manusia memilki kebutuhan status, peran dan fungsi yang berheda. Perilaku manusia akan disesuaikan dengan peran dan fungsinya pada setiap tahap.
Bentak perilaku atau respon terhadap stimulus ada dua macam yaitu : (1) Bentuk pasif adalah respon internal yaitil yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlibat oleh orang lain. ( Berfikir tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan ). Misalnya : siswa tahu bahwa kotor adalah sumber penyakit, meskipun siswa tersebut tidak membersihkan kotoran tersebut tapi tahu bahwa kehersihan itu sangat berguna bagi kesehatan dan dia sangat mendukungnya. Oleh sebah itu perilaku rnereka ini masih terselubung ( cover behavior ). (2) Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya dari contoh di atas siswa langsunf ikut membersihkan dan menjaganya. Oleh karena itu perilaku mereka sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut cover behavior.
Sedangi:an perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan makanan, serta minuman. Secara rinci perilaku kesehatan menyangkut : (a) Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespon baik secara pasif tentang penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan luar dirinya maupun aktif ( tindakan ) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersehut. (b) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, yaitu respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. (c) Perilaku terhadap makanan ( nutrition behavior ), yakni respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. (d) Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environment health behavior) yaitu respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Perilaku ini mencakup lingkungan air bersih, pembuangan air kotor, limbah padat maupun limbah cair, rumah sehat dan sarang vektor.

4. Pendidilan Kesehatan ( Healt Education )
Pendidikan kesehatan adalah proses melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu. kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dalam prosesnya terjadi pengaruh timbal balik antara tiga faktor yaitt: input ( sasaran didik ), proses ( metode dan tehnik belajar, alat bantu dan materi pelajaran ) serta output ( hasil belajar berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari peningkatan subjek belajar.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan ada tiga dimensi yaitu : (1) Sasaran pendidikan kesehatan; yang meliputi individu, kelompok dan masyarakat Tempat pendidikan kesehatan yaitu di sekolah, dirumah sakit dan di tempat kerja. Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan menurul Leavel and Clark, meliputi promosi kesehatan, perlindungan khusus, diagnosa dini dan pengobatan segera serta pembatasan cacat dan rehahilitasi (2) Tujuan dan Materi Pendidikan Kesehatan, menurut pedoman pembinaan dan pengembangan UKS tujuan pendidikan kesehatan ialah agar peserta didik : (a) Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat. (b) Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat. (c) Memiliki ketrampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan. (d) Memiliki kebiasaan hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat kesehatan. (e) Memiliki kemampuan untuk menalarkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. (f) Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan secara harmonis. (g) Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pengutamaan pencegahan penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari. (h) Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar. (i) Memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal serta mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit.
Sedangkan materinya adalah sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran ( GBPP ). Maka pelajraan pendidikan jasmani yang juga mencakup pendidikan kesehatan meliputi: (a) Kebersihan pribadi dan kesehatan pribadi, (b) Makanan dan minuman sehat (c) Kebersihan lingkungan ( sekolah dan rumah ) (d) Keselamatan diri di dalam dan di luar rumah, (e) Mengenal UKS dan programnya, (f) KMSAS (Kartu Menuju Sehat Anak Sekolah) (g) Cara membuang sampah dan air limbah yang benar (h) Rumah sehat (i) Mengenal penyakit yang banyak menyerang anak usia sekolah serta cara pencegahannya. (j) Pemeriksaan kesehatan berkala. (k) Pengenalan perubahan pada masa remaja. (l) P3P dan P3K.
Pengenalan perubahan pada masa remaja barangkali hendaklah diberi beberapa materi pendidikan seks remaja.
Materi pendidikan seks sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi sebuah survei oleh Terry Off 1982 (dalam Sarlito Wirawan Sarwono,l999:186-187) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada umumnya materi pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Masalah yang banyak dibicarakan di kalangan remaja sendiri:
a. Perkosaan
b. Masturbasi *)
c. Homoseksualitas
d. Disfungsi seksual *)
e. Eksploitasi seksual *)
2. Kontrasepsi dan pengaturan kesuburan:
a. Alat KB
b. Pengguguran
c. Alternatif dari pengguguran.
3. Nilai seksual
a. Seks dan nilai moral
b. Seks dan hukum
c. Seks dan media masa *)
d. Seks dan nilai religi *)
4. Perkembangan remaja dan reproduksi manusia:
a. Penyakit menular seksual
b. Kehamilan dan kelahiran
c. Perubahan pada masa puber
d. Anatomi dan fisiologi
e. Obat-obatan alkohol dan seks
5. Ketrampilan dan perkembangan sosial:
a. Berkencan
b. Cinta dan perkawinan
6. Topik lainnya
a. Kehamilan pada remaja
b. Kepribadian dan seksualitas
c. Mythos yang dikenal oleh umum
d. Kesuburan
e. Keluarga Berencana
f. Menghindari hubungan seks
g. Teknik-teknik hubungan seks **)
Catatan: *) Tidak diberikan dan tidak boleh diberikan pada 31 – 40% sekolah yang disurvei.
*) Tidak diberikan dan tidak boleh diberikan pada 74% sekolah yang disurvei
Dari daftar di atas jelas bahwa selain masalah boleh atau tidak bolehnya pendidikan seks diberikan, materi pendidikan seks itu sendiri masih menimbulkan berbagai controversi. Di satu pihak, cukup banyak yang tidak menginginkan nilai agama dimasukkan (alasannya adalah agar anak dapat menentukan sendiri pilihannya tentang nilai seksual), di pihak lain juga cukup banyak yang tidak menghendaki menstrubasi diberikan sebagai materi pendidikan seks (alasannya adalah karena larangan agama).
Tidak cukup itu saja, kontroversi bisa makin tajam jika kita pertimbangkan lagi usia anak yang menerima pendidikan seks itu. Mary Lee Tatum, seorang guru pendidikan seks dari Virginia, mengemukakan : Pada tahap awal pendidikannya disebut kursus ilmu kehidupan (life Science Course), usia anak 14 tahun, yang ditekankan pada penundaan hubungan seks sampai anak betul-betul siap menerima akibatnya. Diberikan di kelas selama satu tahun penuh. Tahap berikutnya pada kelas senior (17 tahun) dalam bentuk seminar, penundaan hubungan seks tidak diberikan lagi karena anak umumnya sudah terlibat seks. Tujuan pendidikan seks pada tahap ini, agar mereka dapat mengerti seks dan dapat bereaksi dengan sebaik baiknya tentang seks. (Sarlito Wirawan Sarwono, 1999:188).

5. Pendidikan Seks
Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak negatif yang tidak diinginkan seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan berdosa.
Akan tetapi di pihak lain, ada yang tidak setuju dengan pendidikan seks, karena dikhawatirkan dengan pendidikan seks, anak-anak yang belum saatnya tahu tentang seks jadi mengetahuinya dan karena dorongan keinginan tahu yang besar yang ada pada remaja mereka jadi ingin mencobanya.
Pandangan pro dan kontra pendidikan seks ini pada hakekatnya tergantung sekali pada bagaimana kita mendefinisikan pendidikan seks itu sendiri. Jika pendidikan seks diartikan sebagai pemberi informasi mengenai seluk beluk anatomi dan prows faal dari reproduksi manusia semata ditambah dengan teknik¬teknik pencegahannya (alat kontrasepsi), maka kecemasan yang disebutkan di atas memang beralasan.
Perbedaan pandangan tentang perlunya pendidikan seks bagi remaja nyata dari penelitian WHO di 16 negara Eropa, yang hasilnya sebagai berikut: (a) 5 negara mewajibkannya di setiap sekolah. (b) 6 negara menerima dan mensahkannya dengan undang-undang tetapi tidak mengaharuskannya di setiap sekolah. (c) 2 negara secara umum menerima pendidikan seks, tetapi tidak mengukuhkannya dengan undang-undang (d) 3 negara tidak melarang, tetapi juga tidak mengembangkannya. (Worth Health, 1979 dalam Sarlito, 2000:184).
Penulis sendiri perpendapat bahwa pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata. Pendidikan seks, sebagaimana pendidikan lain pada umumnya (pendidikan agama, atau pendidikan moral pancasila, misalnya) mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subyek didik. Dengan demikian informasi tentang seks tidak diberikan “telanjang”, melainkan diberikan secara “kontekstual”, yaitu dalam kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat: apa yang terlarang, apa yang lazim dan bagaimana cara melakukannya tanpa melanggar aturan.
Pendapat ini bukan tidak berdasar, untuk itu dapat dikemukakan beberapa pendapat berikut: Pendidikan seks tidak tabu karena di dalamnya ada unsur-unsur pengetahuan yang memberi tahu sejumlah hal dan kafta yang perlu diketahui, tetapi bukan teknik hubungannya seks … tetapi pengetahuan dasar tentang susunan tubuh kita dan juga sikap dan kepribadian yang sesuai dengan jenis kelamin (Romo T. Gilarso, 1998).
Pendidikan seks bukan semata-mata hubungan seksual, tetapi juga bagaimana beberapa aturan atau norma dalam kita berperilaku seksual … (Dra. Ira Paramastri, 1998).
Pendidikan seks pada anak sebaiknya dimulai oleh orang tua (meskipun harus melibatkan guru juga) sejak usia dini. Dimulai dengan pengenalan tubuh sendiri lalu ditingkatkan sesuai kemampuan daya tangkapnya. (Suwarni A. Rahayu,1998)
“Dalam kitab kuning yang membahas pendidikan seks itu banyak, tapi para Kyai belum mau mengomentarinya … Pendidikan seks kepada anak harus dimulai sebelum baligh ….”. (KH. Mujab Mahally, 1998)
Pendidikan kesehatan seksual secara ideal harusnya dimulai sejak Sekolah Dasar (SD), karena berbagai studi evaluasi mengenai program untuk mencegah kehamilan remaja dan merokok, memperlihatkan bahwa secara efektif pendidikan tersebut harus dilakukan sebelum serangan terjadi. Selain itu anak perlu mengenal penyalahgunaan seksual secara dini dalam kehidupan mereka juga harus mendiskusikan tentang norma sosial yang mengatur peranan wanita dan pria, belajar bagaimana membuat keputusan tentang perilaku yang bertanggung jawab, memilih pencegahan yang terbaik untuk mereka, belajar mengenali dan mencegah situasi yang beresiko. (Nurul H.A., 1999:667).

6. Masalah Penerapan Pendidikan Seks di Sekolah
Permasalahan yang dialami dalam melaksanakan pendidikan seks di sekolah disamping budaya masyarakat yang masih mentabukan pembicaraan seks adalah sulitnya menemukan sekolah yang memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum siap pakai. Selain itu, prinsip dan penyuluhan “No sex outside marriage” sering hanya ditujukan pada orang dewasa. Akibatnya prinsip ini tidak mampu menghalangi sejumlah remaja mengalami kehamilan dan mencegah meluasnya PMS. Padahal saat ini remaja cenderung menikah lebih lambat karena lebih lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sekolah dan mereka terpapar oleh berbagai bentuk hubungan dengan lawan jenisnya. Perubahan norma sosial, perilaku seks yang dulunya tidak disetujui oleh wanita dan ditutupi oleh pria, sekarang cenderung dilakukan oleh mereka berdua.
Sistem sekolah juga sering dihadapkan pada masalah yang lain, yaitu para siswa yang sudah berperilku seksual menyimpang dan terinfeksi PMS masih boleh mengikuti pelajaran di kelas mengingat sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya sebagai tempat pembinaan siswa munuju ke arah kehidupan yang baik. Kejadian seperti ini terjadi tidak hanya di lingkungan kita tetapi juga terjadi di Brasil dan di Afrika utara, terjadi demo yang besar dan hasilnya, ada kebijakan yang menegaskan bahwa siswa dan staf sekolah yang terinfeksi HIV mempunyai hak untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja seperti biasa. Kebijakan tersebut juga mewajibkan sekolah untuk memberikan siswa tersebut pendidikan tanpa diskriminasi dan melakukan upaya pencegahan. (Nurul H.A.,1999:667).

7. Belajar Dengan Teman Sebaya
Pengembangan kelompok adalah suatu usaha agar anggota yang bergabung dalam suatu kelompok dapat efektif karena mereka mempunyai sasaran bersama dan mengembangkan tugas bersama, mengembangkan cara-cara bersama, dan membangun hubungan yang makin relistis di antara mereka ( Lynton, 1991:204). Teman Sebaya (peer Group) yaitu kelompok anak sebaya yang sukses dimana ia dapat berinteraksi. (Santosa, 1999:85). Yang lain mengatakan, Peer group adalah kelompok kecil yang anggotanya usianya relatif sama, dan di antara mereka terjalin keakraban (Coleman, 1999). Selain itu, ada yang mengartikan teman sebaya sebagai kelompok yang terdiri dari beberapa orang yang tidak harus saling mengenal, tetapi saling mengikuti kegiatan yang sama di tempat tertentu dan berperilaku menyimpang bila dilihat dari system normative yang bersifat umum (Saifuddin,1999:46).
Pendidikan seksual adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak negatif yang tidak diinginkan seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan berdosa (Sarwonno, 2000). Pandangan pro dan kontra pendidikan seks pada hakekatnya tergantung sekali bagaimana kita mendifinisan pendidikan seks itu sendiri. Jika pendidikan seks diartikan sebagai pemberi informasi mengenai seluk beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia semata ditambah dengan tehnik-tehnik pencegahannya (alat kontrasepsi), memang kecematan di atas beralasan.
Perbedaan Pandangan tentang perlunya pendidikan seks bagi remaja dari penelitian WHO di 16 negara Eropa, yang hasilnya sebagai berikut: (a) Lima negara mewajibkannya di setiap sekolah. (b) Enam negara menerima dan mensyahkannya dengan undang-undang tetapi tidak mengharuskannya di setiap sekolah, (c) Dua negara secara umum menerima pendidikan seks, tetapi tidak mengukuhkannya dengan undang-undang. (d) Tiga negara tidak melarang, tetapi juga tidak mengembangkannya. (Worth Health, 1979 dalam Sarwono. 2000:184).
Beberapa pendapat tentang pendidikan seks berikut: “Pendidikan seks tidak tabu karena di dalamnya ada unsure-unsur pengetahuan yang memberitahu tentang sejumlah hal dan fakta yang perlu diketahui, tetapi bukan teknik hubungan seks…tetapi pengetahuan dasar tentang susunan tubuh kita dan juga sikap dan kpribadian yang sesuia dengan jenis kelamin” (Gilarso, 1998).
Pendidikan seks bukan semata-mata hubungan seksual, tetapi juga bagaimana beberapa aturan atau norma dalam kita berperilaku seksual…” Paramastri, 1998).
Pendidikan seks pada anak sebaiknya dimulai oleh orang tua (meskipun harus melibatkan guru juga) sejak usia dini. Dimulai dengan pengenalan tubuh sendiri lalu ditingkatkan sesuai dengan kemampuan daya tangkapnya. (Rahayu, 1998).
“ Dalam Kitab Kuning yang membahas pendidikan seks itu banya, tapi para Kyai belum mau mengomentarinya…. Pendidikan seks kepada anak harus dimulai sebelum baligh …” (Mahally, 1998).
Ada beberapa temuan penelitian yang dilihat dari beberapa dimensi yaitu pendidikan seksual remaja, pengetahuan remaja tentang perilaku seks, sikap remaja terhadap perilaku seks, dan perilaku seks remaja.

8. Belajar dengan Teman Sebaya (Peer Group) di Sekolah
Dari hasil penelitian satu sekolah, didapatkan 15 peer group dan semua memiliki teman yang paling disukai (populer) dalam membicarakan masalah seksual, dan di antara remaja yang favorit juga ada beberapa remaja yang memiliki nilai sempurna yaitu 1,00, yang berarti benar-benar difavoritkan oleh semua temannya yang ada dalam satu kelompok. Ini menunjukkan bahwa di antara anggota peer group ada yang dianggap pemimpin dan biasanya anak yang disegani dalam kelompok walaupun di antara anggota merasa mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama (Santosa, 1999:85), karena mereka punya kecenderungan selalu berkelompok dengan teman yang sama dengan dirinya misalnya, umur, minat, status sosial, dan yang lainnya (Ajik, 1995 : 4-5).
Hal ini sangat mempengaruhi kecepatan anggota kelompoknya dalam menerima informasi seks yang disampaikan temannya karena semakin populer berarti hubungan sosialnya semakin baik dan semakin tinggi kepercayaan yang dimiliki beberapa temannya (Walgito, 2001:42). Dengan baiknya hubungan sosial dan kepercayaan yang dimiliki temannya maka proses defusi movasi dalam tahap persuasi akan lebih mudah dan dapat mempercepat dalam tahap pertimbangan untuk membentuk sikap (decisions), juga dapat memberikan dukungan dengan baik agar remaja tidak berperilaku seks yang tidak sehat (confermation) (Rogers & Shoemaker : 1978).
Ada empat peer group yang memiliki kohesi dengan baik ini menunjukkan betapa tingginya rasa saling menyukai di antara mereka (Walgito, 2001:51), sehingga tidak jarang sampai mengadakan pembelaan yang sangat tinggi apabila temannya mendapatkan masalah dalam seksualitasnya misal, ada temannya yang hamil di waktu pacaran, mereka mau disuruh mencari beberapa alternatif untuk menggugurkannya, mulai dengan obat-obatan atau minuman sampai pada pencarian orang yang mau mengaborsi. Dengan kohesi yang baik mereka lebih terbuka untuk menyampaikan informasi seks yang banyak hambatan untuk dibicarakan dengan orang tua, guru atau orang lain yang tidak mereka percaya (Ajik, : 1995).
Walaupun hanya ada empat peer group yang memiliki kohesi tinggi, bukan berarti yang lain tidak saling menyukai antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompoknya, mereka tetap saling menyukai dan mempunyai kesetiakawanan yang baik yang ditunjukkan dengan adanya clique. Karena rendahnya kohesi disebabkan banyaknya teman yang dipilih yaitu 16 sampai 18 remaja. Apabila dipilih sedikit 5 sampai 6 remaja maka sangat mungkin kohesinya lebih tinggi.
Dengan diketahui peer groupnya (clique), popularitas, dan kohesinya secara jelas diharapkan dapat memperdayakannya, meningkatkan utilitas peer group yang selama ini mungkin berguna tapi belum jelas dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku sehat remaja di sekolah khususnya seksualitas.

9. Pendidikan Seksual Remaja
Analisis diskripsi menunjukkan bahwa pendidikan seks remaja pada dua kelompok berlangsung sedang, tidak jelek dan tidak terlalu baik. Dari 142 remaja ada 64,1 persen yang menyatakan sedang, 19 persen menyatakan kurang, dan 16,9 persen menyatakan baik. Kalau dilihat dari beberapa komponen pendidikan seks, terlihat bahwa terpaan informasi yang diterima peserta pendidikan seks juga sedang, tidak rendah juga tidak tinggi, karena pendidikan seks diasakan sore hari sehingga waktu penyampaiannya kadang-kadang tidak full time atau kurang dari 120 menit dalam setiap pertemuan. Media yang digunakan oleh pendidik seks dalam hal ini temannya sendiri juga tidak kurang dan tidak terlalu baik tapi sedang-sedang saja 69,0 persen. Sedangkan saluran interpersonal yang diterapkan pendidik seks juga sedang 66,0 persen, tidak terlalu banyak macamnya, tidak banyak variasi dan penggunaannya, dan sedang-sedang saja kejelasannya, sesuai dengan keinginan remaja 42,7 persen memilih ceramah dan tanya jawab(Ajik, 1995:88).
Pendidikan seks di sekolah perjalan sedang, karena pertama, mereka adalah remaja madya (middle addolessence) yang cenderung narcistic, yaitu mencintai diri sendiri dan menyukai teman-teman yang mempunyai beberapa sifat yang sama dengan dirinya (Sarwono, 2000:240 dan mayoritas umurnya 16 tahun 46,5 persen dan 17 tahun 48,6 persen yang masih punya perasaan rendah diri, malu, gampang cemas atau grogi sehingga kurang dapat menguasai diri maupun materinya untuk berdiri di depan teman-temannya (BKKBN, 1998:18). Kedua sebagian besar remaja bertempat tinggal di rumahnya sendiri yang relatif jauh dari lokasi sekolah 84,5 persen, hanya 12,7 persen yang indekos sisanya di rumah saudara. Sehingga untuk mengikuti pendidikan seks yang disampaikan oleh pembina Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan guru lainnya termasuk peneliti, kurang maksimal. Ketiga proses adopsi dari informasi tentang perilaku seksual remaja yang sehat oleh pendidik (click members). (Rogers & Shoemaker, 1978), bedanya hanya pendidik seks sudah dipercaya oleh temannya sebagai sosok yang berpengetahuan lebih baik, enak diajak berdiskusi dan punya pengalaman lebih. Sehingga dalam proses pendidikan seks di sekolah banyak ditunjang oleh frekwensi hubungan, intensitas hubungan, dan popularitas hubungan di antara mereka di luar sekolah (Walgito, 2001:42).
Dengan pendidikan seks di sekolah yang berjalan sedang dan meningkatnya pengetahuan remaja tentang seks (72), sikap yang membaik (277), dan perilaku yang membaik (334,5), mengingatkan kepada kita ternyata remaja di sekolah mampu untuk menyampaikan informasi tentang seksualitas remaja sehat pada temannya sendiri dan cukup berpotensi sebagai media dalam menanggulangi kebobrokan remaja di sekolah khususnya tentang seksualitas yang akhir-akhir ini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan dengan temuan 40,3 persen pria dari 52 remaja sekolah pernah berhubungan intim (Laksmiwati, 1999:50) dan terdapat 74,1 persen dari 526 remaja putri di Surabaya usia 14-27 tahun pernah kissing dan 62 persen dilakukan di luar rumah (Jawa Pos, 4 Mei 2001:21).
Kemampuan remaja untuk mendidik temannya sendiri dapat menjawab kekhawatiran mereka yang tidak setuju diterapkan pendidikan seks di sekolah. Kita ketahui bahwa informasi seks yang diterima remaja terbanyak dari temannya sendiri dan sebagian besar salah hanya sebagian kecil saja yang benar. (Martin & Stendler, 1959 dalam Ajik, 1995:3). Dengan dididik temannya sendiri akan menimbulkan keyakinan normatif akan akibat yang ditimbulkan dari perilaku seks yang tidak sehat dan akan mempengaruhi norma subyektif atau keputusan remaja untuk tidak berperilaku seks yang tidak sehat (Fishbein & Ajzen 1995 dalam Laksmiwati, 1999:14).
Dengan dididik oleh temannya sendiri yang sudah akrap, intim hubungannya, dianggap lebih berpengetahuan, enak diajak bicara, berpengalaman, dan diidolakan maka peserta didik akan lebih mudah menerima dan meniru apa yang disampaikan oleh temannya sendiri (Bandura dalam Glanz, 1999:161-182).
Dengan demikian tidak ada alasan bagi pihak yang tidak setuju dengan pendidikan seks di sekolah karena terbukti remaja di sekolah tidak hanya mau menerima informasi tentang seksualitas remaja yang sehat saja. Tapi juga mampu menyampaikan ke temannya sendiri baik lewat pendidikan seks formal maupun non formal dalam kehidupan bermainnya sehari-hari.

C. Penutup
Sesuai dengan tujuan UKS yaitu memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan siswa yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan, maka cakupan dalam pembinaan dan pengembangan harus memenuhi ketiga tujuan tersebut. Untuk memenuhinya UKS menerapkan tri program UKS ( Trias UKS ) yaitu penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat.
Oleh karena itu perlu adanya beberapa langkah yang harus ditempuh untuk mencapainya dan salah satu tawaran solusi rasional adalah memasukkan materi secara jelas tentang kesehatan seks di UKS.
Materi-materi yang ada di Penjaskes, Biologi, Sosiologi dan PPKN serta materi lain yang relevan sesuai dengan jenjang pendidikannya dikumpulkan menjadi satu. (a) Diidentifikasi persamaan dan perbedaan serta kecocokan materi sesuai dengan GBPP. (b) Disusun secara sistematis dan kronologis disesuaikan antara tujuan UKS dan tujuan GBPP. (c) Dibentuk buku (diktat) untuk materi pendidikan kesehatan bagi UKS. Isi diktat ini meliputi tiga model materi yang disajikan dan tiga domain berikut : (a) Materi yang berisi konsep-konsep kesehatan yang digunakan untuk melihat kognitif domain. (b) Materi yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada sikap peserta didik terhadap materi yang diberikan untuk mengukur afektif domain. (c) Materi yang berisi petunjuk-petunjuk teknis operasional untuk melakukan praktek sehubungan dengan materi yang diberikan, ini untuk melihat psikkomotor domain.
Penyampaian materi UKS dilakukan dengan multi metode (ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok dan tugas), disampaikan untuk mengubah pengetahuan, sikap peserta didik dalam kegiatan usaha kesehatan sekolah.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: