CucuRann

pencari keadilan

Kebudayaan Jawa

Posted by arykamara pada 29 NovemberUTCbSun, 16 Nov 2008 16:33:28 +0000000000pmSun, 16 Nov 2008 16:33:28 +000008, 2008

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak diantara 2 benua (Benua Asia dan Benua Australia) serta terletak diantara dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Secara astronomis Indonesia terletak diantara 60 LU – 110 LS dan 950 BT – 1410 BT yang artinya wilayah Indonesia paling utara (pulau Weh) di Nangroe Aceh Daussalam terletak 60 LU dan paling selatan (Pulau Roti), Di Nusa Tenggara Timur teletak 110 LS. Wilayah paling barat adalah ujung utara pulau sumatera 950 BT dan paling timur adalah kota kota Merauke. Di Papua yang terletak pada 1410 BT. Jarak dari ujung utara sampai ujung selatan Indonesia adalah 170 atau 1.888 km (10 garis lintang diequator sama dengan 111 km).

Jarak dari batas barat sampai batas timur Indonesia adalah 460 atau 5.111km. Berdasarkan world Population data sheet 2005 Indonesia menempati uruta keempat diseluruh dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Jumlah atau kuantitas penduduk adalah banyaknya penduduk yang menempati suatu wilayah pada waktu tertentu. Sumber daya manusia merupakan semua potensi yang berhubungan dengan data kependudukan yang dimliki suatu daerah atau negara yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kenegara yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Manusia merupakan sumber daya terpenting dalam suatu negara atau bangsa. Sumber daya manusia harus memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, kuantitas meliputi jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan mobilitas. Dari segi kuantitasnya dapat dilihat dari aspek pendidikan, kesehatan, serta ketenaga kerjaan yang tersedia.

Pertumbuhan penduduk adalah keseimbangan dinamis antara kekuatan yang menambah dan kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk. Kelahiran dan kematian disebut faktor alami sedangkan perpindahan atau migrasi disebut faktor nonalami. Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk dan kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk. Migrasi yang bersifat menambah disebut migrasi masuk (imigrasi), sedangkan migrasi yang bersifat mengurangi disebut migrasi keluar (emigrasi).

Indonesia mempunyai 33 provinsi yang masing-masing memiliki jumlah kepadatan penduduk yang berbeda-beda serta kebudayaan yang berbeda pula. Pulau jawa adalah salah satu pulau di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, tepatnya terdapat diprovinsi Jawa Tengah, selain perbedaan jumlah penduduk, terdapat pula logat bahasa serta adat-istiadat yang berbeda pula.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi masalah dalam makalah ini yaitu bagaimana keadaan kependudukan di pulau Jawa?

PEMBAHASAN

  1. Daerah Asal Kebudayaan Jawa

Daerah asal orang Jawa adalah Pulau Jawa, yaitu suatu pulau yang panjangnya lebih dari 1.200 km, dan lebarnya 500 km. Letaknya di tepi sebelah Kepulauan Indonesia, kurang lebih tujuh derajat di sebelah selatan garis katulistiwa.

Pulau Jawa adalah bagian dari suatu formasi geologi tua berupa deretan pegunungan yang menyambung denganderetan Pegunungan Himalaya dan pegunungan di Asia Tenggara, dari mana arahnya menikung ke arah tenggara kemudian ke arah timur melualui tepi-tepi Dataran Sunda yang merupakan landasar Kepulauan Indonesia.

Pulau Jawa merupakan daerah gunung berapi yang memiliki sejumlah besar gunung berapi, baik yang masih bekerja maupun yang tidak, dengan ketinggian antara 1.500 hingga 3.500 Meter diatas permukaan laut. Kecuali gunung-gunung berapi utama ini, ada gunung-gunung dan bukit-bukit yang lebih kecil yang terpancar letaknya, yang ada kalanya berasal dari gunung-gunung berapi utama.

Dari lereng-lerang gunung dan bukut mengalir sungai-sungai yang membawa batu- batu muntahan gunung-gunung berapi ke lembah-lembah yang luas di tepi sungai-sungai yang besar. Lembah-lembah yang terdiri dari tanah pasir dan batu kerikil halus itu mengandung kesuburan yang tinggi untuk pertanian, dengan suatu kapasitas kandungan air yang tinggi pula. Sungai-sungai besar seperti Sungai Serayu di Jawa Tengah, dan Bengawan Solo serta Brantas di Jawa Timur, membawa bahan-bahan vulkanis yang suburke daerah-daerah dataran rendah, yang diendapkan di sepanjang pantai selatan Jawa Tengah dan sepanjang pantai utara Jawa Timur.

Kesuburan tanah Pulau Jawa juga banyak disebabkan oleh iklimnya. Karena letaknya di antara dua benya, yaitu benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, maka Kepuluan Indonesia pada umumnya dan Pulau Jawa khususnya mempunyai iklim yang dipengaruhi oleh angin musim, yang dalam saru musim berhembus dari Samudra Hindia, dan dalam musim lain berhembus dari Benya Australia yang kering. Selama bulan-bulan Desember hingga mei, akibat musim barat-daya turun hujan lebat, dan selama bulan-bulan Juni hingga November musim tenggara mengakibatkan musim kering di Kepulauan Indonesia.

Kecuali oleh musim, curah hujan juga ditentukan oleh topografi dan oleh ketinggian suatu daerah. Oleh karena itu di daerah pegunungan curah hujan juga lebih besar daripada di dataran rendah, begitu juga sisi-sisi lereng-lereng gunung yang mendapat hembusan angin.

Suhu pulau Jawa pada umumnya konstan, dengan perbedaan kecil dari hari ke hari, yaitu antara 800 di dataran rendah daerah pantai, dan 600 di daerah pedalaman yang merupakan daerah pegunungan.

Orang Jawa hanya mendiami bagian tengah dan timur dari seluruh Pulau Jawa; sebelah baratnya (yang hampir seluruhnya merupakan Dataran Tinggi Priangan), seperti kita ketahui, adalah daerah Sunda.

Seperti jua orang Jawa, orang Sunda merupakan suku-bangsa dengan penduduk yang besar (sebenarnya merupakan nomor dua terbesar di Indonesia, dengan jumlah penduduk sebesar kira-kira 20 juta dalam tahun 1971).

Hampir seluruh Pulau Jawa memang sangat padat penduduknya, bahkan Pulau Madura yang gersang di sebelah timur-lautnya berpenduduk lebih dari dua juta jiwa pada tahun yang sama. Pulau Jawa yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah Kepulauan Indonesia dan dihuni oleh hampir 60% dari seluruh penduduk Indonesia, adalah daerah asal kebudayaan Jawa.

  1. Jumlah Orang Jawa

Data mengenai pertumbuhan penduduk Pulau Jawa selama abad ke-19 didapat oleh para ahli sejarah sosial dari perkiraan-perkiraan yang termaktub di dalam beberapa buku, a.l. Buku T.S. Raffles, History of Java (1918,I: 63), suatu karangan khusus mengenai statistik penduduk Pulau Jawa karangan P. Bleeker (1847), dan dari angka-angka mengenai penduduk yang terbit dalam Koloniale Verslagen, yang setelah tahun 1860 terbit secara teratur tiap lima tahun. Para ahli demografi masa kini sangat meragukan kebenaran angka-angka itu (Widjojo Nitisastro 1970; Bremen 1963; Peper 1967). Widjojo Nitisastro menunjukkan bahwa perhitungan penduduk dalam abad ke-19 dikaitkan dengan sistem heerendiensten (kerja paksa), dan penduduk yang tidak terkena wajib kerja hampir tidak diperhatikan. Perhitungan agaknya berdasarkan pemilikan halaman rumah, dan tidak berdasarkan jumlah penduduk yang ada (1970: 57). Oleh sebab itu dalam abad ke-19 selalu ada kecenderungan yang disengaja maupun yang tidak disengaja di antara rakyat melaporkan jumlah anggota keluarga yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Walaupun memang ada kesan bahwa laju pertumbuhan penduduk Jawa dan Madura selama abad itu dibesar-besarkan, tetapi kenyataan bahwa jumlah penduduk Jawa yang dalam tahun 1850 adalah 10 juta telah berlipat ganda di awal abad ke-20, menunjukan adana suatu laju kenaikan yang relative tinggi.

Dengan memperhatikan table mengenai penduduk Jawa antara 1815 dan 1930 yang dimuat dalam buku Population Trends in Indonesia (Widjojo Nitisastro 1970: 5-6), kita dapat memperoleh angka-angka penduduk kota Jakarta dan daerah Sunda (yaitu Priangan dan Banten). Kita dapat melihat suatu kenaikan jumlah orang Jawa yang besarnya sepuluh kali lipat, dari3 ½ juta dalam tahun 1815 menjadi 36 juta dalam tahun 1930, ketika sensus umum yang kedua dilakukan di Indonesia.

Sensus 1961 dan 1971 berikutnya secara metodologi lebih maju daripada sensus tahun 1930. tetapi karena variable suku-bangsa ditiadakan dalam perhitungannya, dank arena maka kita tidak mengetahui berapa jumlah orang Jawa Sekarang.

Dari hasil sensus tahun 1930 kita mengetahui jumlah orang Jawa yang tinggal di luar daerah termpat kelahirannya, dan 1.115.000 orang diantaranya tinggal di luar Pulau Jawa. Jumlahnya itu ternyata hanya merupakan 2,8% saja dari seluruh penduduk Pulau Jawa dan Madura saat itu. Dalam tahun 1961 jumlah penduduk di luar Puau jawa dilahirkan di Jawa, menurut perkiraan G. McNicoll adalah 1.647.100 (1968: 92) atau hanya 1,6% dari seluruh penduduk Jawa dan Madura tahun itu. Sekitar 1971 proporsi itu telah meningkat menjadi kita-kita 6%.

Sejak 1850 hingga 1900 pertumbuhan penduduk Jawa tiap tahun diperkirakan 1,5% saja, apabila didasarkan atas angkat kelahiran sebesar 4,5% dan angka kematian yang besarnya sedikit diatas 3%. Pada permulaan abad ini laju pertumbuhan bertambah sedikit menjadi 1,8%, yaitu dalam tahun-tahun sebelum Perang Pasifik pecah dalam tahun 1942. Akan tetapi dalam tahun 50-an secara tiba-tiba terjadi suatu pertambahan penduduk seluruh Indonesia yang disebabkan karena angka kelahiran yang masih tetap 4,5%, tetapi dengan angka kematian yang rendah, yaitu 2%. Dengan demikian angka pertumbuhan penduduk Indonesia menjadi 2,3% yang dalam tahun 1971 di Jawa telah menurun lagi menjadi di bawah 2%.

Sejak pertengahan abad ke-19 migrasi spontan maupun yang dipaksakan terhadap orang-orang Jawa ke pulau-pulau lain telah berlangsung. Sudah sejak 1870 petani-petani Jawa dikontrak untuk bekerja di perkebunan-perkebunan termbakau dan tambang-tambang timah di Sumatera Utara dan Sumatra Timur. Kecuali itu, seperti telah dipaksa bekerja sebagai budak di daerah-daerah jajahan Belandalaherhn angka pertumbuhan ka kematian yang rendah, yaitu 2%. dengan onesia yang disebabkan karena angka kelahiran yang masih te di Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan Kepulauan Karibia, dan di perkebunan-perkebunan Perancis di Kaledonia

Pemindahan penduduk (kolonisatie atau transmigratie) terhadap orang Jawa ke daerah Lampung di Sumatra Selatan dimulai tahun 1905. Pada waktu itu sebanyak 155 keluarga Jawa diberangkatkan ke Sumatra Selatan atas biaya Pemerintah di mana mereka masing-masing mendapat sebuah gubuk untuk tempat tinggal, berbagai alat pertanian, bahan makanan untuk menghidup mereka sampai panen mereka yang pertama, dan uang sebanyak F 20. Hingga tahun 1911 program pemindahan penduduk tidak berjalan dengan baik, tetapi setelah itu jumlah orang Jawa yang sanggup dipindahkan makin bertambah. Dalam tahun 1931 sudah ada 20.838 orang yang dipindahkan, dan sepuluh tahun kemudian (yaitu tahun 1940) sudah ada 245.000 orang. Dengan demikian jumlah transmigran Jawa sudah melebihi penduduk asli Lampung yang pada waktu itu berjumlah 215.000 orang.

Sesudah perang, Negara Republik Indonesia Merdeka tetap menjalankan pekerjaan yang dilakukan pemerintah colonial Belanda, dengan menirikan Jawatan Transmigrasi, yang kemudian ditingkatkan menjadi Departemen. Transmigrasi yang mengelola soal-soal pemindah penduduk dari daerah-daerah yang padat sekali di Jawa, Madura dan Bali, ke bagian-bagian wilayah Indonesia yang kurang padat. Namun karena Pemerintah belum dapat memindahkan lebih dari 52.885 orang (yaitu angka tertinggi yang pernah dicapai oleh Pemerintah Hindia Belanda dalam tahun 1940), padahal penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali mengalami kenaikan paling sedikit 1 ½ juta orang tiap tahun, dan juga mengingat bahwa selama lebih dari satu dasawarsa terjadi suatu atus perpindahan penduduk dari pulau-pulau yang lain ke Pulau Jawa, maka jelas usaha transmigrasi itu saja tidak akan dapat memecahkan masalah kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Karena itu program-program transmigrasi di Indonesia harus disertai dengan suatu program keluarga berencana yang benar-benar dilakukan secara serius.

Program-program keluarga berencana di Indonesia dimulai sangat lambat. Dua dasawarsa pertama sejak Kemerdekaan, para pemimpin Negara belum menaruh perhatian terhadap perkembangan ekonomi, dan kerena itu masalah penduduk di Indonesia hanya mereka pandang sebagai masalah kelebihan penduduk Pulau Jawa, yang bersifat statis dan dapat diselesaikan dengan mentransmigrasikan penduduk.

Baru setelah tahun 1965, setelah ada suatu pemerintahan yang lebih memperhatikan perkembangan ekonomi secara rasional, maka Pemerintah mulai menangani masalah kependudukannya yang sudah sangat parah itu dengan mengadakan usaha keluarga berencana.

Namun, langkah-langkah pertama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, berjalan sangat lambat. Baru dalam tahun 1970 kampanye-kampanye nasional yang permta mulai disebarluaskan. Penggunaan pil anti hamil, IUD dan kondom mulai meluas, sedangkan di beberapa bagian dari Pulau Jawa, telah menggunakan cara-cara tradisional untuk menurunkan jumlah kelahiran.

Widjojo Nitisastro memproyeksikan pertumbuhan penduduk Indonesia berdasdarkan tiga keadaan alternative, yaitu (1) pertumbuhan penduduk Pulau Jawa dalam keadaan tingkat kesuburan yang konstan, mortalitas yang menurun cepat, tanpa ada usaha transmigrasi. (2) tingkat kesuburan yang konstan, mortalitas yang menurun cepat, tetapi dibarengi dengan usaha transmigrasi sebanyak 200.000 orang mudah setiap tahun; dan (3) tingkat kesuburan yang menurun, mortalitas yang menurun cepat, tetapi tanpa usaha transmigrasi. Bahwa usaha keluarga berencana yang menurunkan tingkat kesuburan akan menyebabkan hasil yang lebih baik dalam jangka waktu panjang, dibandingkan dengan usaha transmigrasi. Dibandingkan dengan jumlah orang Jawa di Indonesia jumlah orang Jawa di luar Indonesia tidak begitu banyak.

  1. Bahasa Orang Jawa

Bahasa kesusatraan dan Bahasa Sehari-hari: bahasa Jawa telah dipelajari dengan sesakama oleh sarjana-sarjana Inggeris, Jerman, dan terutama Belanda, pada umumnya menggunakan metode-metode filologi, bukan metode-metode linguistic. Selain bahasa Jawa sehari-hari, masih ada bahasa Jawa kesusastraan yang secara kronologi dapat dibagi ke dalam enam fase seperti yang tersebut dibawah ini:

  1. Bahasa Jawa Kuno, yang diakai dalam prasasti-prasati kraton pada zaman antara abad ke-8 dan ke-10, hanya sebagaian kecil dari naskah-naskah Jawa kuno yang dimiliki dibuat di Jawa Tengah; bagian terbesar ditulis di Jawa Timur.

  2. Bahasa Jawa Kuno yang dipergunakan dalam kesusastraan Jawa bali. Kesusastraan ini ditulis di Bali dan di Lombok sejak abad ke-14. dengan tibanya Islam di Jawa Timur, kebudayan Hindu-Jawa pindah ke Bali di mana kebudayaan itu menjadi mantap dalam abad ke-16.

  3. Bahasa yang dipergunakan dalam kesusatraan Islam di Jawa Timur. Kesusastraan ini ditulis di zaman berkembangnya kebudayaan Islam yang menggantikan kebudayaan Hindu-Jawa di daerah aliran Sungai Brantas dan daerah hilir Sungai Bengawan Solo dalam abad ke-16 dan ke-18, oleh orang Jawa sendiri disebut Kebudayaan Pesisir.

  4. Bahasa kesusastraan kebudayaan Jawa-Islam di daerah Pesisir. Kebudayaan yang berkembang di pusat-pusat agama dikota-kota pantai utara Pulau JAwa dalam abad ke-17 dan ke-18, oleh orang Jawa sendiri disebut Kebudayaan Pesisir.

  5. Bahasa kesusastraan di Kerajaan Mataram. Bahasa ini dipakai dalam karya-karya kesusastraan karangan para pujangga kraton Kerajaan Mataram abad ke-18 dan ke-19.

  6. Bahasa AJwa masakini, bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam masyarakat orang Jawa dan dalam buku-buku serta surat-surat kabar berbahasa Jawa dalam abad ke-20 ini.

Tulisan Jawa. Ada suatu legenda yang menerangkan asal mula pendudu Jawa yang tertentu dan mengenai masuknya kebudayaan Jawa di Pulau Jawa. Hal itu menerangkan bahwa penggunaan tulisan Jawa merupakan unsure penting dari kebudayaan itu.

Menurut para ahli epigrafi, tulisa Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan Sanskerta Dewanagari dari India Selatan yang terdapat pada prasasti-prasasti yang berasal dari Dinasti Palawa yang menguasai daerah-daerah pantai India Selatan pada abad ke-4. prasasti Jawa yang tertua memang menggunakan tulisan Palawa ini, sehingga kita dapat memperkirakan bahwa di Jawa tulisan ini mulai digunakan sejak abad ke-4.

Huruf Jawa dalam tahap-tahap perkembangan kesusastreaan kemudiaan masih terus mengalami perubahan, dan huruf Jawa yang diajarkan di Sekolah-sekolah yang berkembang dalam karya-karya kesusastraan zaman Mataram dari abad ke-18 dan ke-19.

Kesusastraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisa pegon atau gundhil, yaitu tulisan Arab yang disesuaikan dengan keperluan bahasa JAwa. Penggunaan huruf ini adalah terutama untuk kesusastraan Jawa yang bersifat agama Islam, dan tidak pernah digunakan seabgai alat komunikasi sehari-hari.

Orang Jawa sekarang menggunakan huruf latin. Kemahiran membaca dan menulis huruf Jawa diantara generasi orang Jawa sekarang mulai berkembang. Dapat diramalkan,bahwa dalam waktu sepuluh tahun mendatang tulisan yang menggunakan huruf Jawa akan seluruhnya digantikan dengan huruf Latin.

Beberapa Gaya Bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan dalam karya-karya kesusastraan zaman Kerajaan Mataram akhir abad ke-19,ditandai oleh suatu system tingkat-tingkat yang sangat rumit, mengingat perbedaan kedudukan, pangkat, umur, serta tingkat keakraban antara yang menyapa dan yang disapa. Menurut analisis linguistik, unsure-unsur yang menyebabkan berbagai gaya itu dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu (1) perbedaan morfologi yang disebabkan karena penggunaanawalah ataru akhiran yang lain, dan (2) perbedaan sintaksis karena penggunaan sinonim yang lain, partikel yang lain, kata ganti orang yang lain, atau kata penunjuk yanglain. Suatu kosa kata yang terdiri dari kira-kira 300 kata yang wajib dipakai untuk membicarakan milik, bagian tubuh, tindakan atau sifat-sifat orang kedua yang sederajat, atau ketiga yang lebih tinggi kedudukannya atau lebih senior umurnya. Kosa kata itu disebut Krama Inggil (Roskes 1912; Gonda 1948).

Tembung kasar itu tidak termasuk salah satu dari kesembilan gaya bertingkat itu, masih ada Basa Kedhaton atau Bagongan, yang sangat berbeda dari gaya-gaya bahasa lain, dan yang hanya digunakan dalam pembicara-pembicaraan resmi dalam kraton di Surakarta dan Yogyakarta.

Adat sopan-santun Jawa yang menuntut penggunaan gaya bahasa yang tepat, tergantung dari tipe interaksi tertentu, memaksa orang untuk terlebih dahulu menentukan setepat mungkin kedudukan orang yang diajak berbicara dalam hubungan dengan kedudukannya sendiri. Ada kalanya seseorang harus berbicara dengan orang yang lebih tua tetapi yang pangkanya lebih rendah, seorang yang lebih muda tetapi memiliki kekayaan yang lebih besar, atau seorang lapisan yang lebih tinggi tetapi dengan pangkat lebih rendah. Keadaan seperti itu dapat menimbulkan suasana yang canggung bagi kedua belah pihak.

Sudah sejak tahun 1916 ada suatu gerakan bernama Djava Dipo yang dirintis oleh orang-orang Jawa yang bersemangat progresif, yang ingin menghapuskan gaya-gaya bertingkat dalam ujaran bahasa Jawa, hanya menggunakan Ngoko sebagai bahasa dasdar. Bila gaya-gaya bertingkat dalam bahasa Jawa toh harus dihapuskan, maka sebaliknya dipertahankan adalah gaya Krami.

Kebanyakan dari orang Jawa yang lahir sesudah zaman itu tidak lagi berusaha menguasai system rumit itu, dan proses perubahan dari suatu masyarakat agraris tradisionaldan feudal ke suatu masyarakat industri yang modern dan demokratis yang sekarang berlangsung, dengan sendirinya juga menyebabkan bahwa adapt sopan-santun dalam penggunaan bahasa Jawa mengalami penyederhanaan.

Logat-logat Bahasa Jawa. Bahasa Jawa juga mempunyai berbagai logat berdasarkan perbedaan geografi. Th.Pigeaud menyatakan bahwa mungkin sekali sungai-sungai dahulu merupakan saran alalu-lintas, sehingga dengan sendirinya bahasa yang dipakai oleh penduduk dari satu daerah aliran sungat menunjukkan persamaan idiom, yang berbeda dengan bahasa yang dipakai oleh penduduk lembah-lembah sungai yang lain. Sesuai dengna keadaan geografik dapat membedakan beberapa sub-daerah linguistic yang masing-masing mengembangkan logat bahasa Jawa yang perbedaannya antara yang satu dengan lain terlihat dengan jelas sekali.

Di daerah aliran Sungai Opak dan Praga, dan di hulu Sungai Bengawan Solo, di tengah-tengah complex gunung-gunung berari Merapi-Merbabu, Lawu, dipergunakan logat Jawa Tengah Solo-Yogya. Daerah ini juga merupakan daerah pusat kebudayaan Jawa-Kraton, yang dianggap sebagai daerah sumber dari nilai-nilai dan norma-norma Jawa.

Di sebelah utara daerah ini terdapat logat Jawa Pesisir yang dipergunakan di kota-kota daerah pantai utara. Loga tini tidak jauh berbeda dari logat Solo-Yogya. Bagian barat daerah sub-kebudayaan Pesisir sangat dipengaruhi kebudayaan dan bahasa Sunda.

Sebelah Timur daerah sub-kebudayaan Jawa Tengah adalah daerah Sungat Brantas. Logat yang diucapkan di daerah itu sangat dipengaruhi oleh logat Solo-Yogya.

Bahasa JAwa yang dipakai di daerah pantai Jawa Timur sangat banyak terpengaruh bahasa Madura, yakni suatu bahasa yang sama sekali berbeda dnegan bahasa Jawa; sedangkan bahasa yang dipergunakan di ujung timur Pulau Jawa, yakni Banyuwangi dan Blambangan, banyak dipengaruhi oleh bahasa Bali.

Di ujung sebelah barat Pulau Jawa, yaitu sebelah barat daerah kebudayaan Sunda, terdapat logat Banten, yang merupakan suatu logat bahasa Jawa Sunda.

KESIMPULAN

Pulau Jawa merupakan salah satu kepualuan di Indonesia yang daerahnya subur, berpenduduk padat, dat mempunyai bermacam-macam kebudayaan yang diantaranya meliuti logat bahasa, tulisan, dan kesusastraan untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa Pemerintah mengambil kebijakan dengan mengadakan transmigrasi dan keluarga berencana (KB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: