CucuRann

pencari keadilan

Kid-Adult, Mengaku Dewasa Tapi Masih Kekanak-Kanakan

Posted by arykamara pada 29 NovemberUTCbSun, 16 Nov 2008 01:45:23 +0000000000amSun, 16 Nov 2008 01:45:23 +000008, 2008

Mungkin Anda pernah mendengar jikalau usia tidak menentukan kedewasaaan seseorang, hanya saja biasanya sebagian besar orang berpendapat bahwa orang yang lebih tua dan semakin berumur, lebih dewasa dibandingkan yang lebih muda. Lalu adakah sifat kekanak-kanakan dari mereka yang mungkin telah berumur atau mereka yang telah mengaku sudah dewasa? Atau mungkin mereka tidak menyadari atau malu mengakui, bahwa mereka yang mengaku dewasa juga bisa bersikap kekanak-kanakan?

Kid dan Adult, dua kata yang berarti perpaduan dari anak-anak dan dewasa. Sebagai contohnya wanita umur 40 tahun yang masih senang pakai blus berenda, dengan pita warna pink, atau pria umur 35 tahun yang masih gemar meluangkan waktunya main play station, sampai istri harus marah-marah, atau bagi mereka yang takut menikah hanya karena enggan memikul tanggung jawab besar, dan jikalau akhirnya menikah, mereka tetap menggantungkan hidup pada orang tua. Pada intinya, mereka semua “menolak” jadi dewasa karena tidak mau kehilangan zona aman sebagai anak-anak, yang biasanya hidup enak dan tidak dituntut untuk menanggung tanggung jawab besar.

Menurut sebuah surat kabar di Amerika, The New York Times, menyatakan bahwa tradisi keluar rumah setelah bekerja mapan atau bekerja sambil kuliah seperti menjadi hal yang ‘diharuskan’ di Amerika. Jika mereka yang terbilang sudah bekerja mapan ataupun sudah berkeluarga masih tinggal satu rumah dengan orang tua, maka inilah yang menjadi fenomena kid-adult, termasuk Indonesia. Sedangkan perilaku kid-adult yang melanda orang yang berusia lebih dari 25 tahun, maka sebagian dari mereka akan menunda pernikahan ataupun memiliki anak, karena mereka masih senang keliling dunia dan lebih mempertahankan karier sebagai ajang coba-coba, dibandingkan hidup mapan.

Penyebab utama terjadinya kid-adult di Amerika dan sekitarnya karena adanya lapangan kerja yang kompetiti untuk kaum muda, ekonomi orang tua yang lebih mapan, dan gaya hidup yang konsumerisme, sehingga orang tua biasanya dijadikan ‘bank’ untuk memenuhi kebutuhan bagi anak-anaknya yang merasa ‘kurang beruntung’. Sedangkan untuk Indonesia, terdapat ikatan keluarga besar dengan kewajiban untuk saling membantu, dan orang tualah yang paling sering membantu anak-anaknya, termasuk untuk anak-anaknya yang meski sudah dewasa, bahkan menikah dan memiliki penghasilan sendiri, masih tinggal satu atap dengan orang tua. Bahkan sebisa mungkin orang tua akan membantu anakanya jangan sampai gagal, karena kegagalan adalah aib bagi keluarga besar. Hal inilah yang menyebabkan anak menjadi tidak mandiri dan kurang bertanggung jawab terhadap dirinya. Sama halnya dengan orang kota yang menganggap ‘lebih’ dibandingkan orang daerah atau pedesaan, justru mendapati anak-anaknya menjadi kid-adult, sementara orang desa atau daerah berani untuk merantau ke luar daerah ataupun ke luar negeri untuk mendapatkan penghasilan yang besar.

Sementara seorang psikolog handal, Lusia Ratrining Sari, mengungkapkan bahwa pada orang kid-adult, sifat childish atau kekanak-kanakan seharusnya sudah selesai, namun pada kenyataannya masih berlangsung, mulai dari penampilan, emosional, kepribadian, dan pola pikir. Mereka selalu membutuhkan orang lain (bahkan orang tua) dalam mengambil keputusan, kalau kemauannya di tolak langsung ngambek, ngomel, atau malah balik menyerang, enggan memikul tanggung jawab yang besar dan sebagainya. Namun, perilaku kid-adult ini tidak berhubungan dengan inteligensi seseorang, bahkan mereka bisa memberikan argument yang rasional bagi sifat kekanak-kanakannya.

Hal mendasar penyebab kid-adult berkaitan dengan pola asuh orang tua, trauma masa lalu, pengaruh lingkungan, kepribadian orang itu sendiri, atau semuanya. Ada orang tua yang bahkan ingin tetap merasa berarti buat anak, termasuk mengulurkan bantuan tatkala anak-anaknya merasa kesusahan. Tanpa disadari orang tua, hal inilah yang dapat menyebabkan ketergantungan dari diri si anak kepada orang tuanya. Bahkan tak jarang, orang tua yang dulunya ‘petarung hidup’, justru tidak mau mewariskan sifat ‘petarungnya’ ke anak-anaknya karena pepatah lama, “biar orang tua hidup susah, jangan sampai anak juga hidup susah”. Padahal semuanya tidak ada yang abadi, orang tua bisa meninggal kapan saja ataupun harta yang sudah tak tersisa, dan pada waktu itulah dituntut kemandirian dari segi fisik dan emosional dari diri si anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: