CucuRann

pencari keadilan

Linguistik Umum

Posted by arykamara pada 29 DesemberUTCbThu, 18 Dec 2008 11:30:00 +0000000000amThu, 18 Dec 2008 11:30:00 +000008, 2008

I. Kalimat
Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil. Kita akan mengikuti konsep, bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.

Dari rumusan itu bisa disimpulkan, bahwa yang penting atau yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final, sebab konjungsi hanya ada kalau diperlukan. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa, tetapi bisa juga tidak berupa klausa, melainkan berupa kata atau frasa. Kalimat yang konstituen dasarnya berupa klausa tentu saja menjadi kalimat mayor atau bebas, sedangkan yang berupa kata atau frasa tidak dapat menjadi kaalimat bebas, melainkan hanya kalimat terikat.

Intonasi final yang ada yang memberi ciri kalimat ada tiga buah, yaitu intonasi deklaratif (titik), intonasi interogatif (tanya), dan intonasi seru.

Jenis kalimat
Kalimat Inti dan Kalimat Non Inti
Kalimat inti (kalimat dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral, dan afirmatif.
1. FN + FV : Nenek datang
2. FN + FV + FN : Nenek membaca komik
3. FN + FV + FN + FN : Nenek membacakan kakek komik
4. FN + FN : Nenek dokter
5. FN + FA : Nenek cantik
6. FN + FNum : Uangnya Dua Juta
7. FN + FP : Uangnya didompet
Keterangan:
FN : Frasa Nominal
FV : Frasa Verbal
FA : Frasa Adjektival
FNum : Frasa Numerial
FP : Frasa Preposisi
Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai proses transformasi, antara lain: Transformasi pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penginfersian, pelesapan, dan penambahan.
Kalimat Inti + Proses Transformasi = Kalimat Non Inti
Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat tersebut adalah kalimat tunggal, kalau klausanya lebih dari satu, maka kalimat tersebut disebut kalimat majemuk. Dalam hal ini, berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat itu, dibedakan adanya kalimat majemuk koordinatif (lazim juga disebut kalimat majemuk setara), kalimat mejemuk subordinatif (lazim juga disebut dengan kalimat majemuk bertingkat), dan kalimat majemuk komplek.
Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama atau setara.
Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau sederajat.
Kalimat Mayor dan Minor
Pembedaan kalimat mayor dan minor dilakukan berdasarkan lengkap tidaknya konstituen dasar kalimat itu. Kalau klausanya lengkap, setidak-tidaknya memiliki unsure subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut mayor. Kalau tidak lengkap disebut minor.

Kalimat Verbal dan Non Verbal
Secara umum dapat dikatakan kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frasa, yang berkategori verbal. Sedangkan kalimat non verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frasa verbal.
Berkenaan dengan banyaknya jenis atau tipe verbal dibedakan menjadi beberapa jenis kalimat:
1. Trasnsitif : kalimat yang predikatnya verba transitif yaitu verba yang biasanya diikuti objek
2. Intransitif : predikatnya adalah kalimat verba intransitive yaitu verba yang tidak memiliki objek
3. Kalimat Aktif : kalimat yang predikatnya kata kerja aktif
4. Kalimat Pasif : kalimat yang predikatnya berupa verba pasif
5. kalimat Dinamis : predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakaan tindakan atau gerakaan, contoh: pulang, pergi
6. Kalimat Statis : predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan, contoh: mati, tidur
7. Kalimat Refresif
8. Kalimat Resiprokol
9. Kalimat Ekuatif
10. Kalimat Bebas : kalimat yang berpotensi untuk menjadi sebuah paragraph tanpa bantuan kalimat lain yang menjelaskannya
11. Kalimat Terikat : kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri
Intonasi Kalimat
Dalam Bahasa Indonesia tampaknya intonasi ini (tekanan, nada atau tempo) tidak berlaku pada tatanan fonologi dan morfologi, melainkan hanya berlaku pada tatanan sintaksis. Sebuah klausa yang sama, artinya terdiri dari unsure segmental yang sama, dapat menjadi kalimat deklaratif/interogratif hanya dengan mengubah intonasinya.
Yang dimaksud dengan tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.
Tempo : adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan arus ujaran, sedangkan nada adalah unsure suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran yang terjadi karena getaran selaput suara

II. Wacana
1. Pengertian
Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran atau ide yang utuh yang bisa dipahami oleh pembaca atau pendengar tanpa keraguan apapun.
Persyarataan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau wacana itu sudah terbina yang disebut kekohesian atau keserasian hubungan antara unsure-unsur yang adaa dalam wacana tersebut.

2. Alat Wacana
Alat-alat gramatikal yang dapaat digunakaan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain adalah:
Pertama, konjungsi, yakni alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat atau paragraph dengan paragraf. Contoh dengan menggunakan konjungsi dan, karena, ketika, sebelum, oleh karena itu, sedangkan dan lain lain.
Kedua, menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.
Ketiga, menggunakan elipsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama terdapat kalimat lain. Dengan elipsis karena tidak diulangnya bagian yang sama, maka akan tampak menjadi lebih efektif, dan penghilangan itu sendiri menjadi alat penghubung kalimat didalam wacana itu.

3. Jenis wacana
Berkenaan dengan sarana ada wacana lisan dan wacana tulis, dilihat dari penggunaan bahasa menjadi wacana prosa dan wacana puisi
Wacana prosa dilihat dari penyampaian isi dibedakan menjadi :
Wacana narasi yaitu menceritakan topik atau hal
Wacana eksposisi yaitu memaparkan topik atau fakta
Wacana persuasi yaitu mengajak, menganjurkan, atau melarang
Wacana argumentative yaitu memberi argument, bukti atau alasan terhadap suatu hal.

III. Tataran Semantik
Hakikat Makna
Menurut Ferdinand De Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua komponen yaitu: “signifian” (yang mengartikan) yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen “signifie” (yang dimiliki oleh signifian)

Jenis Makna
a. Makna leksikal, gramatikal, dan konstektual
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun, misalnya: leksem kuda memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai. Dengan contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, atau makna apa adanya.
Berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru ada jika ada proses gramatikal, seperti: afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi.
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam suatu konteks.

b. Makna referensial dan non referensial
sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensinya, seperti kata kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata bermakna referensial, karena ada acuannya dalam dunia nyata, sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial.

c. Makna denotatif dan makna konotatif
d. Makna konseptual dan makna asosiatif
e. Makna kata dan makna istilah
f. Makna peribahasa dan makna idiom

Relasi Makna
Hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lainnya.
1. Sinonim
2. Antonim
3. Polisemi
4. Homonimi
5. Hiponimi
6. Ambiguiti atau Ketaksaan
7. Redundansi

Perubahaan Makna

Medan Makna dan Komponen Makna
Medan makna adalahseperangkat unsure leksikal yang maknanya paling berhubungan, kerena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan, atau realitas dalam alaam semesta tertentu.
Komponen makna adalah makna yang dimiliki oleh setiap kata yang terdiri dari sejumlah komponen yang membentuk sejumlah makna kata itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: